RANGKUMAN JURNAL STRUKTUR PENELITIAN ILMIAH
TUGAS KELOMPOK 4 RANGKUMAN BUKU FILSAFAT ILMU, JUJUN S. SURIASUMANTRI BAB 5 STRUKTUR PENELITIAN ILMIAH
Nama kelompok:
- Aditya Bhaskara Fachrudi
- Angga maulana
- Charisa kumala dewi
- David saputra
- Halimul aula
- Nanda yulian pranoto
- Nurhadis
- Rizki Erlinton
- Rosyana nilatiarawati
Nama kelompok:
- Aditya Bhaskara Fachrudi
- Angga maulana
- Charisa kumala dewi
- David saputra
- Halimul aula
- Nanda yulian pranoto
- Nurhadis
- Rizki Erlinton
- Rosyana nilatiarawati
STRUKTUR PENELITIAN ILMIAH
24
Penelitian Ilmiah
Penelitian ilmiah
merupakan kegiatan untuk mendapatkan pengetahuan.Pengetahuan ini bisa berupa
pengetahuan ilmiah, informasi untuk pengambilan keputusan, atau pengetahuan
lainnya yang diperoleh untuk tujuan tertentu.Pembedaan yang dilakukan disini
bertujuan untuk menjelaskan bahwa tidak smeua penelitian itu diarahkan untuk
memperoleh pengetahuan ilmiah.Penelitian ilmiah, dalam pembahasan kita ini,
adalah penelitian yang mempergunakan metode ilmiah sebagai dasar kegiatannya.
Kegiatan penelitian ilmiah mencerminkan prosedut yang
terkandung dalam metode ilmiah mencerminkan prosedur yang terkandung dalam
metode ilmiah dalam memperoleh pengetahuannya. Dua bentuk dasar penelitian ilmiah yakni penellitian murni
dan penelitian terapan.Penelitian murni bertujuan untuk mendapatkan pengetahuan
baru yang berupa konsep atau teori ilmiah.Prosedur yang digunakan dalam
penelitian murni ini dinamakan “epistemology penemuan teori baru”.Penelitian
terapan bertujuan untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan dengan
mempergunakan teori ilmiah yang telah ditemukan sebagai acuan. Terdapat
dua buah prosedur yang dapat dilakukan dalam penelitian terapan ini yakni
“epistemology pemecahan masalah” dan “epistemology penemuan ilmiah “.
Epistimologi pemecahan masalah
meletakkan konteks justifikasi didepan dan konteks penemuan dibelakang.
Sebaliknya, epistemology penemuan ilmiah meletakan konteks penemua didepan dan
konteks justifikasi di belakang.
Argumentasi Untuk PengembanganEpistemology
Pemecahan Masalah
Epistemology untuk memperoleh
pengetahuan yang berupa teori atau konsep baru hanya satu yakni epistemology
penemuan teori baru.Penemuan teori atau konsep baru jarang dilakukan dalam
penelitian akademik yang berbentuk skripsi, tesis atau disertai.Penelitian ini
kebanyakan dilakukan oleh ilmuwan professional. Untuk itu maka epistemology ini
tidak akan dibahas secara mendalam dan prosedurnya secara garis besar telah
dibahas dalam bab sebelumnya.
Penelitian akademik biasanya berorientasi pada penelitian
terapan yang bertujuan memecahkan permasalahan praktis dengan mengacu kepada
teori ilmiah yang relevan.Epistemology penemuan ilmiah dimulai dengan
pengumpulan pengolahan data dan kesimpulan yang ditarik dari data ini kemudian
diberikan justifikasi secara teoritis.Epistemology ini merupakan prosedur yang
sering dilakukan dalam penelitian dinegara kita termasuk penelitian
akademik.Kelebihan epistemology penemuan ilmiah ini adalah efektif untuk
memperoleh penemuan baru.Epistemology ini adalah cocok bagi peneliti
professional yang tujuannya memangmemperoleh penemuan baru. Kekurangan
epistemology ini tidak membentuk cara berpikir yang konsepsional, nalar, dan
antisipatif. Dengan demikian terdapat kemungkinan bahwa teori ilmiah tidak
berfungsi sebagaimana mestinya sebagai justifikasi teoritis yang memayungi
kebeneran yang sesungguhnya.Penelitian akademik biasanya dilakukan hanya sekali
dengan publikasi secara terbatas. Kekeliuran yang mungkin terjadi sukar untuk
dikoreksi dan akan menimbukan berkas yang mendalam bagi cara berpikir calon
ilmuwan dikemudian hari.Persepsi yang keliru ini kan membentuk prototype
“manusia expost facto” yakni manusia yang aru berpikir sesudah sesuatu terjadi
dan bukan mengantisipasinya sebelum hal
itu terjadi. Sindrom ini sudah kelihatan dalam masyarakat kita yang cenderung
untuk meributkan segala sesuatu sesudah suatu kejadian berlalu dan bukan
sebelumnya.
Epistomologi pemecahan masalah adalah prosedur penelitian
yang melakukan penalaran deduksi dalam pengajuan hipotesis seperti yang
dilakukan dalam epistemology penemuan teori baru, artinya hipotesis dirumuskan
berdasarkan argumentasi teoritis . Langkah-langkah dalam bentuk kegiatan
penelitian yang dijabarkan akan merujuk kepada epistemology pemecahan masalah
ini.
Bentuk penelitian dan metodenya
Bagi mereka
yang akan melakukan penelitian terdapat sejumlah bentuk penelitian dengan metode penelitian yang dapat dipilih. Bentuk
penelitian ini dapat dipilih sesuai dengan tujuan penelitian.Bentuk dasar penelitian
yakni penelitian murni dan penelitian terapan beragam bentuk penelitian yang
ada secara garis besar terkait dengan kedua hal tersebut.Penelitian murni
bertujuan untuk penemuan teori atau konsep keilmuwan baru sedangkan penellitian
terapan bertujuan untuk memecahkan masalah dengan mengacu kepada teori-teori
ilmiah yang relevan.
Bentuk penelitian yang dapat
digunakan untuk pengembangan teri baru antara lain adalah metode
eksperimen,deduksi postulasional, induksi empiris dan grounded research. Penamaan
keempat metode penelitian hanya untuk menunjukan titik awal kegiatan
pengembangan teori baru. Induksi empiris
biasa dilakukan dalam penelitian kualitatif namun dalam penyusunannya teori
selanjutnya akan mempergunakan deduksi. Deuksi postulasional mempergunakan
premis yang mungkin merupakan hasil induksi empiris . Metode eksperimen dalam
menyusun teri baru yang ditemukannya juga akan mempergunakan deduksi
postulasional. Emikian juga penelitian kualitatf yang mengembangkan teri baru
berawal dari induksi empiris yang kesimpulannya dipergunakan sebagai premis
dalam deduksi untuk menyusun teori substantifnya. Semua bentuk penelitian ini
pada hakikatnya tetap mengacu kepada metode ilmiah dengan asas
logico-hypothetico-verifikatif.
Penelitian semacam ini secara
epistemology tidak terlalu sukar untuk dilakukan.Kita terpaksa mempergunakan
teori-teori ilmu sosial yang belum tentu cocok dengan kondisi realitas negara
kita karena penelitian dasar mengenai hal ini belum banyak
dilakukan.Penggolongan bentuk penelitian ini dapat dilakukan berdasarkan unit
analisis yang dipergunakan dalam penelitian.Kategori pertama adalah penelitian
yang unit analisisnya adalah idea atau teori yang telah ada.Penelitian yang
unit analisisnya adalah idea atau teori dinamakan penelitian teoritik.Kita
dapat melakukan penelitian teoritik dengan metode penelitian kepustakaan.Melalu
kegiatan penalaran kita mampu menemukan sesuatu yang baru dari
proporsi-proporsi yang telah ada.Kesimpulan penelitian teoretik ini yang
biasanya merupakan sintesi dari teri-teori sebelumnya sifatnya bersifat
hipotesis.
Kategori kedua adalah penelitian
yang unit analisisnya adalah fakta.Fakta yang dimaksud berada didunia empiric
dan oleh sebab itu penelitian ini dinamakan penelitian empiric.Penelitian
empirik ini kadang disebut sebagai kepustakaan.Penelitian empirik ini dapat
dibagi lagi ke dalam tiga kelompok yakni penelitian eksploratoris, penelitian
pengujian hipotesis dan pengembangan teori substansif.Penelitian eksploratoris
sesuai dengan namanya bertujuan melakukan eskplorasi terhadap suatu objek
penelitian dengan pendekatan yang bersifat deskriptif. Metode yang dapat
dipergunakan untuk penelitian eksploratoris ini antara lain adalah studi kasus,
survey deskriptif, metode kualitatif idiografis dan content analysis. Untuk
menguji hipotesis yang kita temukan dalam penelitian eksploratoris seperti
“hubungan antara tingkat pendidikan dengan besar penghasilan” maka metode
penelitian survey dapat dipergunakan.survei ini merupakan metode yang sangat
banyak digunakan dalam ilmu-ilmu sosial baik untuk kegiatan keilmuwan maupun
pengambilan keputusan.
Bentuk penelitian pengujian
hipotesis dipergunakan jika kita mempunyai gagasan yang ingin kita buktikan
atau kita ujikan kebenerannya. Untuk itu
kita akan mengadakan eksperimen dengan memberikan mata pelajaran filsafat ilmu
selama satu semester utum menguji efektivitasnya. Satu hal yang mesti diketahui
bahwa untuk penelitian akademik yang mengutamakan penalaran maka bobot materi
yang dicobakan harus setara.Artinya, kita tidak membandingkan antara kelompok
yang diberikan mata pelajaran filsafat ilmu dengan kelompok yang tidak sebab
menurut penalaran kelompok pertama jelas diuntungkan.
Eksperimen yang lain yang berharga
dijadikan penelitian akademik adalah action research. Dalam literature action
research ini banyak ragamnya sehingga kadang-kadang ada action research yang
banyak action nya tetapi kurang researchnya .untuk kegiatan akademik disarankan
untuk memilih action research dengan konsep atau teori yang sudah jelas. Cara
menilai efektivitas penerapan dalam action research adalah dengan jalan
membandingkan kondisi pengambilan keputusan sebelum MIS diterapkan dengan
sesudah MIS diterapkan.Action research merupakan penelitian yang dampaknya
terlihat dengan nyata sebab penelitian ini merupakan invasi konseptual terhadap
sebuah sistem kelembagaan yang memungkinkan terjadinya perubahan secara
permanen.
Variasi lain dari eksperimen
adalah penelitian espost facto. Penelitian expost facto ini dilakukan setelah
suatu kejadian besar terjadi umpamanya sesudah banjir melanda sebuah kota.
Kejadian banjir ini secara konseptual dapat kita anggap sebagai perlakuan
meskipun yang melakukannya bukan peneliti melainkan alam.Analisis yang lebih
dramatis dapat dilakukan setelah gempa besar menerpa di mana manusia bisa
kehilangan segalanya.Atau lebih dahsyat lagi, terjadinya tsunami yang jarang
terjadinya namun dampaknya sangat lluar biasa.
Bentuk lain dari penelitian adalah
meta-anallisis yang unit analisisnya adalah data sekonder. Data sekonder adalah
data yang diambil dari publikasi orang lain. Jadi meta-analisi ini termasuk ke
dalam penelitian kepustakaan engan mempergunakan metode penelitian
meta-analisis.Penelitian ini mencoba menganilisis kembali bermacam-macam hasil
penelitian didekati dari sudut pendekatan tertentu dan mencoba menemukan pola
baru.Katakanlah kita menganalisis besarnya koefisien korelasi antara tingkat
bunuh diri dengan tingkat kesejahteraan masyarakat di berbagai negara.Kalau
data ini kita analisis maka mungkin kita mendapatkan kesimpulan bahwa “semakin
sejahtera sebuah negara semakin kecil tingkat bunuh diri” atau mungkin
sebaliknya. Kita juga mungkin hanya mengambil data mengenai tingkat bunuh diri
saja yang kemudian kita hubungkan dengan variabel lain yang datanya kita ambil
dari sumber sekonder yang lain. Katakanlah kita mempunyai hipotesis bahwa
tingkat bunuh diri bukan saja disebabkan oleh tingkat kesejahteraan masyarakat
namun juga oleh adanya perlakuan masyarakat terhadap perilaku yang menyimpang.
Pembahasan mengenai ragam penelitian
ini bukan dimaksudkan untuk mengalisis secara substansial bentuk-bentuk
penelitian yang ada, melainkan memberikan gambaran secara garis besar yang
memungkinkan peneliti untuk memilih bentuk penelitian yang disukai, dan
mempelajarinya lebih dalam dari sumber yang lebih kompeten.
Konteks
justifikasi adalah argumentasi yang dibangun dengan mempergunakan premis yang
diambil dari kajian pustaka yang berfungsi untuk menjelaskan temuan penelitian.
Dalam epistemologi penemuan ilmiah dimana justifikasi dilakukan setelah
pengumpulan dan pengolahan data kadang terdapat kecenderungan untuk membenarkan
apa saja kesimpulan yang ditarik dari data sebab kita tidak mempunyai
pembanding yang lain. Hal ini sering terjadi pada calon ilmuwan yang sedang
belajar meniliti.Hal ini mungkin terjadi dalam epistemologi pemecahan masalah
sebab kita mempunyai hipotesis yang telah kita yakini kebenerannya sehingga
kalau didukung data maka hal itu tidak aneh lagi.Jika hipotesis ditolak oleh
data maka kita tidak begitu saja membenarkan hal itu melainkan kembali berpikir
dengan melakukan evaluasi kritis terhadap pelaksanaan penilitian.Kalau ternyata
metodologi penelitian sudah dilakukan dengan benar maka kita memikirkan
kembalin konteks justifikasi kita kalau-kalau terjadi kelemahan dalam
argumentasi yang kita berikan.
Kegiatan penelitian yang menekankan
pada penalaran dan proses belajar ini akan tampak pada bentuk perumusan masalah
dan bentuk metode analisis data. Kegiatan penelitian dewasa ini banyak
mempergunakan teknik analisis multivariat dan analisis variansi. Teknik
analisis multivariat sangat berguna dalam penelitian ilmu-ilmu sosial, dan
teknik yang akan digunakan dalam analisis penelitian ini.
PENGAJUAN
MASALAH
Proses kegiatan ilmiah, menurut Ritchie Calder, dimulai
ketika manusia mengamati sesuatu. Dalam konteks ini, menurut John Dewey,
masalah dalam kegiatan keilmuwan timbul bila kita menemukan kesukaran dalam
hidup kita yang menimbulkan pertanyaan. Itulah sebabnya maka kita biasa
mengajukan masalah penelitian dalam bentuk
pertanyaan. Realitas yang kita amati yang menjadi objek perhatian kita biasanya
merupakan suatu situasi yang kompleks yang terjalin dari berbagai fakta.
Realitas yang menjadi objek perhatian kita tersebut dinamakan latar belakang
masalah.
Dalam
memilih masalah penelitian anda harus menanyakan dua hal kepada diri anda
sendiri: apakah landasan teori yang berkaitan dengan permasalahan yang anda
pilih itu dikuasai dengan baik atau tidak? Pilihan yang salah hanya akan
membawa anda kepada kesukaran dan kegagalan. Kita mulai memikirkan masalah
tersebut ditinjau dari berbagai sudut. Dalam konteks ini kita harus melakukan
dua hal, pertama, memilih mana dari kedua pendekatan ini yang akan kita
tetapkan sebagai pendekatan masalah dan, kedua, kita harus membatasi faktor-faktor
yang berkaitan dengan hal itu.
Pembatasan masalah
merupakan keharusan dalam penelitian akademik sebab dalam hal ini berlaku
kriteria bukan kuantitas jawaban yang dipentingkan melaikan kualitasnya.Dalam
era penggunaan komputer dewasa ini mengolah tiga variabel atau dua puluh
variabel penelitian menjadi persamaan regresi jamak (multiple regession) tidak
terlalu menjadi persoalan.Namun dalam hal ini kita harus mengingat bahwa setiap
penemuan ilmiah, terutama dalam penelitian akademik, harus mempunyai
justifikasi ilmiah.
Dalam
penelitian akademik maka semua pikiran yang ada dalam benak kita dan semua
pernyataan yang terkandung dalam laporan penelitian kita, harus dipertanggung jawabkan
didepan komisi ujian.kaidah moral dalam penelitian akademik adalah bahwa apa
yang kita tulis dan apa yang kita ucapkan harus dapat dipertanggung jawabkan
baik secara teorotik maupun secara faktual.
Dalam
upaya pembatasan masalah ini katakanlah kita hanya mengambil tiga faktor
penyebab banjir yakni curah hujan, daerah resapan air dan faktor manusia yang
menyebabkan banjir. Faktor manusia ini akan kita dekati dari “sikapnya terhadap
kelestarian lingkungan.”20 Dengan demikian maka masalah kita dapat
dirumuskan sebagai “pengaruh curah hujan, daerah resapan air dan sikap manusia
kepada kelestarian lign kungan terhadap banjir.”Perumusan masalah dapat
dirumuskan secara umum atau secara lebih terinci tergantung dalam konteks mana
pernyataan ini diajukan. Perumusan masalah dalam ringkasan penelitian atau bab
mengenai kesimpulan penelitian dinyatakan dalam bentuk pernyataan secara umum.
Sedangkan perumusan masalah yang dikaitkan dengan pengajuan hipotesis dinyatakan
secara lebih terinci.Masalah ini kita rumuskan secara terinci sebab kita bukan
hanya bermaksud untuk menemukan persamaan regresi jamak dari semua variabel
penilitian namun juga akan memberikan justifikasi teoritas terhadap setiap
variabel yang terliput dalam penelitian. Perumusan seperti ini juga memudahkan
kita untuk berpikir secara sistematik bahwa untuk empat buah pertanyaan:
dibutuhkan empat buah jawaban sementara yang didukung empat kerangka berpikir,
empat perangkat data empirik dan empat kesimpulan penelitian yang merupakan
jawaban terhadap pertanyaan penelitian.
20Variabel
ini dipilih untuk memadukan penelitian dibidang ilmu-ilmu alam dengan ilmu-ilmu
sosial serta memberikan contoh cara penyusunan instrumen penelitian dalam
ilmu-ilmu sosial. Sudah tiba waktunya bagi penelitian akademik dibidang
ilmu-ilmu alam untuk mengasah kemampuan prediktifnya dan bukan hanya
menggantungkan kepada metode observasi secara pasif.
Pembahasan yang
panjang lebar ini mengerucut pada satu hal yakni bahwa semua langkah dalam
penelitian harus dirancang sejak awal.Pengajuan masalah tidak berdiri sendiri
melainkan merupakan preseden yang berpengaruh terhadap keseluruhan langkah
dalam kegiatan penelitian.
PENGAJUAN MASALAH
Ø Latar
belakang masalah
Ø Identifikasi
masalah
Ø Pembatsan
masalah
Ø Perumusan
masalah
Ø Kegunaan
penelitian
|
KERANGKA BERPIKIR DAN
PENGAJUAN HIPOTESIS
Penyusunan kerangka berpikir secara deduktif dalam pengajuan
hipotesis ini pada hakikatnya adalah sama dengan deduksi hipotesis untuk
menguji kebenaran teori baru secara empiris. Teori-teori yang diacu untuk
penyusunan kerangka berpikir ini dicantumkan dalam sub-sab deskripsi
teoretis.Deskripsi teoretis ini bukan hanya mengemukakkan berbagai teori
mengenal variabel kita melainkan juga analisis terhadap teori-teori tersebut
ditinjau dari kekurangan dan kelebihan teori masing-masing.Tujuan analisis ini
adalah agar kita bisa menyusun proposisi terbaik berdasarkan sintesis dari
teori-teori tersebut. Kesimpulan dari kajian deskripsi teorotis ini adalah
definisi yang akan kita pergunakan dalam penelitian. Definisi yang kita gunakan
dalam penelitian dinamakan konstruk (construct).
Adanya konstruk ini sering dilupakan oleh peneliti sehingga
penalaran kita sering tergoncang karena di kaitkan oleh orang lain,
umpamanya komisi penguji, dengan teori
yang berbeda dengan konstruk kita.
Sebaiknya dinyatakan secara tersurat mana dari definisi yang ada merupakan konstruk penelitian kita.Konstruk yang baik
yang mengandung indikator-indikator ini umpamanya definisi mengenai sikap
kepada lingkungan yang dinyatakan sebagai “respons evaluatif berdasarkan nilai
penilaian kognitif, afektif dan konasi (kecenderungan untuk bertindak) terhadap
kesadaran pengelolaan lingkungan yang meliputi tata ekologi, jaringan
kehidupan,komunitas non-manusia dan komunitas manusia”. Dari kajian teoretis
ini kita menyimpulkan empat konstruk yakni mengenai curah hujan (X1). Daerah
resapan air (X2).sikap kepada kelestarian lingkungan (X3) dan banjir (y)
.Setelah kita berhasil merumuskan konstruk maka kita mulai mengadakan deduksi
hipotesis dalam kerangka berpikir.Deduksi hipotesis ini pada intinya merupakan
silogisme dengan bentuk sebagai berikut.
(Premis 1) X adalah…
(konstruk mengenai X)
(Premis 2) Y adalah…
(konstruk mengenai Y)
Kesimpulan : “Jika X
maka Y”
Contoh:
(Premis 1)
-
Sikap kepada kelestarian lingkugan adalah
respons evaluatif berdasarkan penilaian aspek kognitif, afektif dan konasi terhadap pengelolaan lingkungan yang mencakup
tata ekologi, jaringan kehidupan, komunitas biotik dan komunitas manusia.
(Premis 2)
-
Banjir adalah situasi dimana air yang tersedia
melampaui daya tampung sehingga kelebihan air itu menggenangi daerah sekitarnya
(Kesimpulan)
-
Semakin positif sikap terhadap kelestarian
lingkungan maka semakin kondusif perilaku manusia terhadap kelestarian
lingkungan. Perilaku yang kondusif ini akan mencegah berkurangnya daya tampung air
seperti sistem drainase yang
mendangkal karena sampah serta
memelihara daerah resapan air. Oleh sebab itu maka di duga bahwa semakin
positif sikap terhadap kelestarian lingkungan maka semakin kecil potensi banjir
untuk terjadi.
Tentu saja kerangka berpikir mengenai pengaruh sikap kepada
kelestarian lingkungan bisa lebih
artikulatif dari sekedar silogismus di atas.Kerangka berpikir dalam
pengajuan hipotesis ini dapat di jadikan sub-bab tersendiri yang meliputi empat
topik yakni kerangkaberfikir mengenai (1) pengaruh curah hujan terhadap banjir;
(2) pengaruh daerah resapan air terhadap banjir ; (3) pengaruh sikap kepada
kelestarian lingkungan terhadap banjir dan (4) pengaruh curah hujan, daerah
resapan air dan sikap kepada kelestarian lingkungan secar bersama-sama terhadap
banjir.
Keempat hipotesis yang ditarik dari keempat kerangka
berfikir tadi dapat dikelompokkan dalam sub-bab tersendiri yang berjudul
pengajuan hipotesis yakni:
-
Terdapat hubungan positif antara tinggi curah
hujan dengan intensitas banjir. Artinya, semakin tinggi curah hujan maka
semakin besar intensitas banjir.
-
Terdapat hubungan positif antara daerah resapan
air dengan intensitas banjir. Artinya, semakin besar berkurangnya daerah
resapan air maka semakib besar intensitas banjir.
-
Terdapat hubunga negatif antara sikap kepada
kelestarian lingkungan dengan intensitas banjir. Artinya, semakin positif sikap
terhadap kelestarian lingkungan maka semakin kecil intensitas banjir.
-
Terdapat hubungan antara curah hujan.daerah
resapan air dan sikap kepada kelestarian lingkungan secara bersama-sama dengan
intensitas banjir.
Kalau kita perhatikan hipotesis yang di simpulkan dalam
kerangka berpikir bersifat definitif seperti “hubungan positif” dan bukan
merupakan hipotes terbuka atau netral yang sering kita temui dalampenelitian konvesional
yakni “ada hubungan”. Hipotesis definitif mempunyai beberapa
kelebihan,pertama,lebih akurat diksi
sebab pernyataan “ada hubungan” bisa berarti hubungan negatif atau positif;
kedua,lebih mencerminkan deduksi hipotesis dalam metode ilmiah yang
memprediksikan secara definitif gejala empiris yang dapat diamati; ketiga,
lebih menggambarkan situasinya dalam kehidupan sehari-hari dalam pengambilan
keputusan; dan,keempat,membiasakan diri dalam melatih cara berpikir yang bersifat
konsepsional, nalar dan antisipatif.
Banyak kalangan yang berpendapat bahwa cara berpikir
konsepsional, nalar dan antisipatif ini akan terbentuk dengan sendirinya
setelah lulus dari perguruan tinggi. Artinya, tak usah ada latihan khusus sebab
ketiga karakteristik berpikir tersebut sudah menyatu (built in) dalam entitas keilmuan. Dalam penalaran itu pun mereka
lebih banyak mempergunakan akal sehat ketimbang konsepsi keilmuan yang
dikuasai.Demikian juga pemikiran mereka biasaya bersifat reaktif sesudah sesuatu
terjadi dan bukan secara proaktif dalam mengantisipasi sebelum sesuatu
terjadi.Gejala “berpikir expost facto” tercermin dalam berbagai keputusan yang
menyangkut hajat orang banyak.Epimologi pemecahan masalah mensyaratkan
diajukannya hipotesis yang di dukung argumentasi keilmuan secara
nalar.Kelebihan lainnya dari adanya kerangka berpikir ini ialah bahwa deduksi
hipotesis yang terangkum di dalamnya sudah merupakan konteks justifikasi bagi
penemuan peneletian kita sekiranya hipotesis yang di ajukan di dukung oleh
data.Setelah hipotesis berhasil diuji kita tidak perlu memberikan justifikasi
lagi dan secara langsung dapat menyimpulkannya. Dalam penelitian dengan
justifikasi di lakukan,terdapat kemungkinan, pertama, kita lupa memberikan
justifikasi teoretis; kedua, justifikasi kadang terlihat seperti di paksakan untuk mendukung kesimpulan data
dan, ketiga, justifikasinnya tidak ada dan bukan di sebabkan lupa melainkan
karena tidak tahu.
KERANGKA BERFIKIR
DAN PENGUJIAN HIPOTERIS
Ø Deskripsi
teoritis
Ø Kerangka
berfikir
Ø Pengujian
hipotesis
|
METODOLOGI
PENELITIAN
Metodologi
penelitian merupakan kumpulan metode yang dipergunakan dalam proses pengumpulan
dan pengolahan data. Metode-metode yang di pergunakan ini tergantung dari apa
yang ingin di capai oleh tujuan penelitian. Tujuan penelitian harus mencakup
variabel-variabel yang di telah dalam penelitian serta bentuk hubungan
antarvariabel in dapat di bedakan antara tujuan membedakan dan menghubungkan.
Berdasarkan tujuan penelitian ini kita menentukan metode
penelitian ini kita mentukan metode penelitian.Metode penelitian yang di
pergunakan sesuai dengan tujuan penelitian kita.Metode eksperimen adalah metode
yang sering di pakai untuk tujuan membedakan sedangkan survei sering di pakai
untuk menentukan hubungan antarvariabel yang jumlahnya terbatas dalam suatu
wilayah tertentu.
Tujuan peneliti turun
ke lapangan adalah untuk mengumpulkan data. Data curah hujan atau daerah
resapan air, umpamanya, mungkin dapat diperoleh pada lembaga tertentu. Dalam
hal ini kita harus melakukan dua hal, pertama, menyusun instrumen penelitian
untuk mengukur variabel tersebut dan kedua, menentukan cara untuk memilih
manusia yang akan di jadikan responden atau manusia yang akan diukur oleh
instrumen tersebut. Penyusun instrumen itu sendiri termasuk dalam metode
penyusunan instrumen sedangkan pemilihan responden termasuk dalam metode
pengambilan contoh.
Cara-cara peyusunan instrumen dapat di pelajari secara
lengkap dalam buku metodologi penelitian atau buku yang secara khusus membahas
mengenai hal itu.Sunan insturmen itu baru dapat di lakukan kita gunakan dalam
pengajuan masalah dan kajian teoretis.Konsep yang dipergunakan dalam penyusunan
instrument adalah definisi ooperasiona.Konsep
yang dipergunakan sebagai definisi konseptual dinamakan konstruk.Dalam bab terdahulu kita telah mendefinisikan konstruk
kita mengenal sikap kepada kelestarian lingkungan sebagai “respons evaluatif
berdasarkan penliaian kognitif, afektif dan konasi terhadap pengelolaan
kelestarian lingkungan yang mencakup tata ekologi, jaringan kehidupan,komunitas
non-manusia dan komunitas manusia”.
Metode selanjutnya adalah metode pengambilan contoh.Pada
prinsipnya semua pengambilan contoh untuk generalisasi memakai teknik statisik
harus mempergunakan teknik acak (random).Teknik
yang paling sederhana adalah teknik acak sederhana(simple random sampling technique). Teknik yang sangat berguna dalam
penelitian ilmu-ilmu sosial adalah (cluster
random sampling)
Terakhir sekali adalah metode analisis data. Untuk analisi
secara kuantitatif dengan mempergunakan statistika maka cukup di sebutkan
teknik analisis statistika yang akan di pergunakan. Untuk analisis secara
kuantitatif di perlukan secara terinci langkah-langkah yang akan ditempuh untuk
sampai kepada kesimpulan akhir berupa kesimpulan penelitian.
METODOLOGI PENELITIAN
Ø Tujuan
penelitian
Ø Tempat/waktu
penelitian
Ø Metode
penelitian
Ø Metode
pemyusunan instrumen
Ø Metode
pengambilan contoh
Ø Metode
analisis data
|
HASIL
PENELITIAN
Hasil
penelitian kita pada dasarnya adalah data yang telah berhasil kita kumpulkan
dan kita olah. Terdapat empat jenis kelompok data yakni data dalam kuesioner,
data dalam bentuk tabel, data deskriptif, dan data kesimpulan pengajian
hipotesis.Bab mengenai hasil penelitian terdiri dari tiga bagian yakni
deskripsi data, pengujian persyaratan analisis dan pengujian hipotesis.Dalam
deskripsi data kita laporkan data tiap-tiap variabel yang telah kita olah
mempergunakan teknik statistika deskriptif.Data deskriptif harus di jelaskan
sebab keberadaan data tersebut harus merupakan informasi yang berguna dan bukan
sekedar data statistik. Pengujian
persyaratan analisis ini di lakukan sebagai prasyarat untuk mempergunakan
teknik analisis statistika tertentu.Contoh teknik analisis statistika yang
biasa kita pergunakan di dasarkan pada asumsi bahwa data terdistrubusi secara
normal.Dalam penelitian asumsi ini harus kita uji dulu dengan mempergunakan
data yang telah kita peroleh. Jika ternyata bahwa distribusinya tidak normal maka kita harus
mempergunakan teknik analisis statistika yang lain yakni statistika nonparametik. Beberapa teknik analisis statistika
inferensial membutuhkan asumsi yang lain mengenai homogenitas data. Metode
eksperimen membutuhkan asumsi homoscedasticity yang merupakan bentuk lain dari
homogenitas data.
Pengujian hipotesis
melaporkan apakah hipotesis penelitia yang kita ajukan diterima atau di tolak
data. Seperti juga degan laporan deskripsi data semua caradan perhitungan dalam
pengujian hipotesis ini di taruh dalam lampiran yang letaknya dirujuk melalui
catatan kaki. Dengan demikian laporan hasil peneltian kita akan tampak rapih
namun didukung oleh perhitungan yang lengkap yang ditaruh dalam lampiran.
Hal kedua yang harus di lakukan dalam laporan pengujian
hipotesis adalah menafsirkan penemuan-penemuan
empirik setelah diterima sebagai proposisi ilmiah.Dalam hal ini kita
menerjemahkan persamaan matematik dalam bentuk numerik menjadi pernyataan
verbal.Sekiranya hipotesis kita ditolak maka kita harus melakukan evaluasi
kritis terhadap semua kegiatan penelitian kita terutama melakukan evaluasi
kepada metodologi penelitian kita dan kerangka berpikir dalam pengajuan
hipotesis. Evaluasi pertama kita lakukan terhadap metodologi penelitian dan
bila kita tidak menemukan sesuatu yang salah dapat kita lanjutkan dengan
mengevaluasi kerangka berpikir kita
HASIL PENELITIAN
Ø Deskripsi
data
Ø Pengujian
persyaratan analisis
Ø Pengujian
hipotesis
Ø Keterbatasan
penelitian
|
KESIMPULAN,
IMPLIKASI, DAN SARAN
Bab ini lebih merupakan
sintesis dari apa yang telah di laporkan dalam hasil penelitian yang akan
merupakan landasan bagi pengembangan implikasi dan saran penelitian. Bab
terakhir ini sebenarnya merupakan bagian yang terpenting dari suatu penelitian
pemecahan masalah sebab di sinilah akan di uraikan secara mendalam bagaimana
masalah yang telah di kemukakan akan di pecahkan. Pemecahan masalah ini
bukanlah sekedar beberapa pernyataan verbal tetapi sebuah rencana aksi (action
plan) yang lengkap dan operasional yang di sangga oleh tesis yang telah teruji
kebenarannya.
Menimba arti dari data, meminjam perkataan Van Dalen “merupakan tahap
paling sukar dan paling menyenangkan dari sebuah penelitian”. Bagi peneliti
yang kurang mempunyai gagasan bagaimana pemecahan masalah dilakukan maka
pengembangan rencana aksi akan terasa sangat sukar di kerjakan. Sebaliknya bagi
mereka yang mempunyai bermacam gagasan untuk dikembangkan maka tahap ini akan
terasa sangat menyenangkan. Mereka dengan bebas, tanpa hambatan dan batasan
teoretis, bisa mengembangkan gagasan gagasan baru berdasarkan penalaran. Mereka
bergerak dalam dunia hipotesis yang luas yang hanya di batasi oleh panalaran
dan demarkasi keilmuan.
Dalam pengembangan tesis pemecahan masalah ini anda boleh mengemukakan apa
saja, meskipun tidak ada teori ilmiah yang mendukungnya, asalkan dapat di
pertanggung jawabkan secara nalar dan akademik. Anda bisa menjadi filsuf
sekaligus ilmuwan. Jadi beda antara penelitian murni dan penelitian terapan di
tentukan oleh output nya. Penelitian murni menghasilkan konsep ilmiah atau
teori ilmiah baru yang teruji sedangkan penelitian terapan menghasilkan cara
pemecahan masalah baru berdasarkan konsep dan teori ilmiah yang telah ada.
Penulis ingin menutup pembahasan mengenai penelitian ini dengan pesan
kepada peneliti peneliti muda agar jangan pernah menganggap penelitian sebagai
beban melainkan sebagai petualangan idea (adventures of ideas).Terakhir sekali
kepada peneliti muda di sampaikan bahwa penemuan kebenaran dalam bidang apa
saja, termasuk kebenaran dalam bidang keilmuan, asalkan dilakukan dengan
kesungguhan dan kelapangan hati akan memberikan kepuasan bathin. Kesimpulan
apapun harus berdasarkan penalaran dan pertimbangan anda pribadi.kita harus mau
dan siap untuk menemukan kebenaran, kelapangan dada untuk kritik dan saran Yng membangun,serta belajar hal-hal
baru dari siapa pun juga.
KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN
Ø Kesimpulan
Penelitian
Ø Implikasi
Penelitian
Ø Saran
Penelitian
|
26
Teknik
Penulisan Ilmiah
Teknik penulisan ilmiah mempunyai dua aspek yakni gaya penulisan dalam membuat pernyataan ilmiah serta teknik notasi dalam menyebutkan sumber
dari pengetahuan ilmiah yang dipergunakan dalam penulisan. Komunikasi ilmiah
harus bersifat jelas dan tepat yang memungkinkan proses penyampaian pesan yang
bersifat reproduktif dan impersonal. Bahasa yang dipergunakan harus jelas dimana
pesan mengenai obyek yang ingin dikomunikasikan
harus mengandung informasi yang disampaikan sedemikian rupa sehingga si
penerima betul-betul mengerti akan isi pesan yang disampaikan kepadanya.
Penulis ilmiah harus menggunakan bahasa yang baik dan benar. Sebuah kalimat
yang tidak bisa di definisikan mana yang merupakan subyek dan mana yang
merupakan predikat serta hubungan apa yang terkait antara subyek dan predikat
kemungkinan besar merupakan informasi yang tidak jelas. Tata bahasa merupakan
ekspresi dari logika berpikir, tata bahasa yang tidak cermat merupakan
pencerminan dari logika berpikir yang tidak cermat pula. Demikian juga
penggunaan kata harus dilakukan secara tepat artinya kita harus memilih
kata-kata yang sesuai dengan pesan apa yang ingin kita sampaikan. Pengetahuan
ilmiah penuh dengan terminologi yang kadang-kadang penafsirannya berbeda antara
seorang ilmuwan dengan ilmuwan yang lain.
Kadang-kadang bahkan terminologi yang kelihatannya seakan-akan sudah jelas
dan gamblang juga membutuhkan penjelasan seperti “manajemen”, “efektivitas” dan
“efisiensi”. Penjelasan ini di perlukan sebab terdapat pengertian yang banyak
sekali mengenai apa yang di maksud dengan kata-kata itu. Kata manajemen umpama
nya bisa ditafsirkan macam-macam dari manajemen dalam pengertian yang luas
sampai manajemen dalam pengertian yang sempit. Maka pada tahap ini penjelesan
terminologi “manajemen” tersebut cukup terbatas apa yang diartikan dengan
“manajemen” itu saja. Tidak perlu kita pada tahap ini berbicara panjang lebar mengenai
berbagai hal tentang manajemen.
Sekiranya penjelasan mengenai ini diberikan pada pembahasan mengenai
masalah maka komunikasi kita akan mengalami dua kerugian. Pertama dengan
terlalu banyaknya materi pembahasan maka informasi yang berlebihan ini akan
menimbulkan polusi, yang untuk selanjutnya, akan menyebabkan prespektif
mengenai masalah yang sedang dibahas itu sendiri menjadi tidak jelas. Kedua
terpisahnya sumber informasi pada saat informasi itu diperlukan yang
menyebabkan melemahnya argumentasi yang sedang di susun. Kadang-kadang sumber
informasi ini terpisah sedemikian rupa di mana informasi yang diperlukan berada
di tempat lain. Tentu saja komunikasi seperti ini hanya jelas bagi penulis nya
tetapi tidak jelas bagi pembaca yang lain. Padahal komunikasi ilmiah di
maksudkan untuk konsumsi pihak lain tidak untuk di baca sendiri seperti sebuah
buku harian.
Komunikasi ilmiah harus bersifat reproduktif, artinya bahwa si penerima
pesan mendapatkan kopi yang benar-benar sama dengan prototipe yang disampaikan
si pemberi pesan, seperti fotokopi atau sebuah afdruk foto. Dalam komunikasi
ilmiah tidak boleh terdapat penafsiran yang lain selain isi yang dikandung oleh
pesan tersebut. Komunikasi ilmiah harus bersifat impersonal,
dimana berbeda dengan tokoh dalam sebuah novel yang bisa berupa “aku”, “dia”,
atau “Doktor Faust”, merupakan figur yang muncul secara dominan dalam seluruh
cerita, maka figur seperti itu harus hilang dalam pernyataan ilmiah. Kata ganti
perorangan menjadi hilang dan ditempati oleh kata ganti universal yakni
“ilmuwan” yang tidak di nyatakan secara tersurat.
Pembahasan secara ilmiah mengharuskan kita berpaling kepada pengetahuan
ilmiah sebagai premis dalam argumentasi kita. Pengetahuan ilmiah tersebut kita
pergunakan untuk bermacam-macam tujuan sesuai dengan bentuk argumentasi yang di
ajukan. Pernyataan ilmiah yang kita pergunakan dalam tulisan harus mencakup
beberapa hal. Pertama harus dapat kiya indentifikasikan orang yang membuat
pernyataan tersebut. Kedua harus dapat kita identifikasikan media komunikasi
ilmiah di mana pernyataan itu disampaikan apakah itu
makalah,buku,seminar,lokakarya dan sebagainya. Ketiga harus dapat kita
identifikasikan lembaga yang menerbitkan publikasi ilmiah tersebut beserta
tempat berdomisili dan waktu penerbitan itu dilakukan.
Cara kita mencantumkan ketiga hal tersebut dalam tulisan ilmiah kita di
sebut teknik notasi ilmiah. Pada
pokoknya seorang ilmuwan boleh memilih salah satu dari teknik notasi ilmiah
sekaligus sebab hal ini cuma akan menimbulkan kebingungan.
Buku ini memperlihatkan contoh tekhnik notasi ilmiah yang mempergunakan
catatan kaki (footnote). Sebelum kita melakukan pilihan terhadap salah satu
dari tekhnik ilmiah yang ada sebaliknya kita mengetahui dasar-dasar pemikiran
yang melandasi tekhnik tersebut. Hal ini penting kita ketahui agar dengan
demikian kita dapat memilih tekhnik notasi yang tepat dan tentu saja juga
dengan selera si penulis ilmiah. Dalam tekhnik notasi ilmiah dengan
mempergunakan catatan kaki, umpamanya, terdapat dua variasi. Variasi yang
pertama ialah bahwa catatan kaki itu ditaruh dalam halaman yang sama(footnote)
sedangkan dalam variasi kedua catatan kaki itu seluruhnya dikelompokkan dan
ditaruh pada akhir sebuah bab (endnote).
Fungsi pertama dari catatan kaki adalah sebagai sumber informasi dari
pernyataan ilmiah yang dipakai dalam tulisan kita. Informasi tersebut mencakup
nama pengarang, judul tulisan dan media yang memuat karangan tersebut. Namun sebenarnya
terdapat fungsi kedua dari catatan kaki yakni sebagai tempat bagi
catatan-catatan kecil, yang sekira nya di letakkan dalam tubuh utama laporan
akan mengganggu kelancaran penulisan. Catatan semacam ini dapat pula diletakan
dalam catatan kaki,namun sekitarnya catatan kaki yang mengandung keterangan yang
bersifat memperkaya ini ditaruh dihalaman belakang,kemungkinan besar keterangan
tambahan ini tidak akan terbaca. Dengan demikian bila tujuan catatan kaki itu juga
dimaksudkan untuk memberikan catatan kaki tambahan. Pada hakikatnya seorang ilmuan harus mampu
menyatakan pendapat orang lain dala bahasanya sendiri yang mencirikan
kepribadiannya .banyak kelihatannya tidak mencerminkan kepribadian si
penulisnya melainkan sekear koleksi pendapat orang lain. Apalagi jika kutipan-kutipan tersebuttidak
disusun menjadi satu kerangka pemikiran yang utuh dan menyakinkan.
Kutipan langsung kadang-kadang memang diperlukan dengan tujuan untuk
mempertahankan keaslian pernyataan itu.Seseorang memungkin membuat pernyataan
yang sangat otentik yang bisa disalin ke dalam bentuk pernyataan yang lain akan
kehilangan keotentikannya.Kutipan langsung jumlahnya kurang dari empat baris ditaruh dalam tubuhtulisan
dengan mempergunakan tanda kutip. Untuk kutipan langsung yang terdiri dari
empat baris kalimat atau lebih maka keseluruhan kutipan tersebut dalam tempat
tersendiri.
Dalam melaporkan hasil analisis statika maka harus dihindarkan
pernyataan-pernyataan numerik yang sebenarnya dalam dikemas dalam bentuk
tabel.Artinya tabel analisis statistika yang baik memuat semua keterangan dari faktor yang ada
dalam tabel tersebut termasuk hasil akhir analisis. Dengan cara seperti ini maka pernyataan
verbal dalam karangan kita hanya memuat proposisi dan bukan data mentah yang
masih harus di olah. Karya ilmiah juga bisa mempunyai keindahan estetik dengan
disertai tabel-tabel yang canggih dan “menjelaskan dirinya sendiri” serta
grafik dan tampilan grafis lainnya yang memperkaya pembahasan dan bukan malah
sebaliknya, membuat karangan menjadi semrawut dan acak-acakan. Perhitungan
statistika yang lengkap boleh saja marupakan bagian dari laporan penelitian
asalkan ditaruh dalam lampiran. Printout komputer tidak usah seluruhnya masuk
lampiran kecuali bagian yang dianggap penting. Pengolahan lewat komputer ini
sebaliknya di jadikan tabel seperti analisis statistika lainnya.
Laporan penelitian biasanya mempunyai ringkasan yang di tulis dalam bahasa
inggris. Dalam hal ini kita sebaiknya memperhatikan dua hal yakni, pertama
bahasa tersebut mempunyai tata bahasa khusus untuk komunikasi ilmiah yang di
sebut sebagai scientific grammar. Kedua bahasa inggris mempunyai sinonim
kata-kata yang kaya dan indah.
28
Teknik Notasi Ilmiah
Dalam bagian ini akan dicoba untuk
menguraikan hal-hal yang bersifat pokok dari salah satu teknik notasi ilmiah
yang mempergunakan catatan kaki. Tidak semua aspek dari teknik notasi ilmiah
tersebut akan dibahas di sini melainkan bagian-bagian yang penting saja.
Diharapkan dengan menguasai aspek-aspek yang bersifat esensial maka seseorang
akan mampu mengkomunikasikan gagasannya secara ilmiah, atau paling tidak mamu
memahami sebuah karya ilmiah.
Tanda catatan kaki diletakkan di
ujung kalimat yang kita kutip dengan mempergunakan angka arab yang naik diketik
setengah spasi. Atau bisa juga kita mempergunakan lambang tertentu dengan
catatan bahwa lambang yang sama dapat diulangi dalam halaman yang berbeda,
namun lambang yang berbeda harus dipergunakan untuk tiap catatan kaki dalam halaman
yang sama. Catatan kaki dengan mempergunakan angka diberi nomor mulai dari
angka satu sampai habis catatan kaki dalams satu bab. Untuk bab baru catatan
kaki dimulai lagi dengan angka 1 dan seterusnya.
Satu kalimat mungkin terdiri dari
beberapa catatan kaki sekiranya kaliat tersebut trdiri dari beberapa kutipan.
Dalam keadaan seperti ini maka catatan kaki diletakkan di akhir kalimat yang
dikutip sebelum tanda baca penutup. Sedangkan satu kalimat yang seluruhnya
terdiri dari satu kutipan, tanda catatan kaki diletakkan sesudah tanda baca
penutup.
29
Action Research:
Jembatan antara Penelitian dengan
Pengabdian
Action research dalam
pelaksanaannya mempuyai berbagai bentuk : ada The action not the research, the
research not the action dan the research and the action. Dalam bentuk yang
pertama maka yang menonjol adalah kegiatan (action) dan bukan penelitiannya (
research ). Dalam bentuk kedua ini peranan peneliti terlalu dominan dan peranan
klien terlalu pasif untuk dapat di kategorikan sebagai action research. Bentuk
keitga adalah sintesis dari kedua bentuk terdahulu yakni konsep keilmuan yang
jelas, metodologi penelitian yang baku, serta peranan yang seibang ntara
peneliti dan klien dalam melakukan action research. Bentuk inilah yang saya
anggap cocok untuk peneitian akademik dalam bentuk skripsi, tesis atau
disertasi. Untuk itu maka pelaksanaannya akan dirinci lebih jauh dibawah ini.
Karakteristik action research
Action research, berbeda dengan penelitian-penelitian tersebut, hanya
mempunyai kesahihan di tempat lokasi dimana penelitian dilakukan. Action
research memang tidak ditujukan untuk menemukan pengetahuan ilmiah yang
bersifat universal, melainkan mencari pemecahan praktis terhadap permasalahan
yang bersifat lokal.
Kegunaan Action research
Bobot keilmuan Action research kadang dipertanyakan namun seperti telah
kita sebutkan terdahulu memang terdapat tiga bentuk action research dan dua
bentuk pertama secara keilmuan memang meragukan. Walaupun kita menggunakan
bentuk ketiga, yang pada hakikatnya mencoba menerapkan konsep keilmuan dan
langkah penelitian ilmiah sebaik-baiknya, namun kita tetap harus meletakkan
semua itu pada setting dan tujuan yang ingin dicapai oleh action research.
Setting Action research ialah
sebuah komunitas yang diintervensi dengan tujuan untuk memecahkan permasalahan
yang dihadapi dengan melibatkan anggota komunitas tersebut. Artinya, yang
memecahkan masalah itu secara konkret adalah anggota komunitas itu sendiri, dan
peneliti berperan sebagai change agent dan konsultan. Jadi pada hakikatnya
bobot keilmuan dan tingkat keberhasilan action research tergantung dari
interaksi secara dinamis antara peneliti dengan klien.
Menjembatani kesenjangan
Pemecahan masalah secara bersama-sama antara peneliti dan pengguna hasil
penelitian juga memberika dampak positif lainnya, manfaat pertama adalah
menghilangkan hambatan psikologis terhadap suatu upaya pembaharuan.
Jika upaya pembaharuan itu
mempergunakan suatu konsep baru, maka action research juga memulai kegiatannya
dengan memperkenalkan hakikat dan kegunaan konsep tersebut.
Action research menerapkan konsep peneliian
ilmiah terhadap pemecahan masalah. Penelitian ilmiah tidak dilakukan hanya oleh
penliti, sebagaimana diakukan dalam peneltian akademi lainnya, tetapi
melibatkan juga semua pihak yang terlibat. Untuk itu maka penelitian yang
diharpakan hanya mempergunakan konsep-konsep yang sederhana.
Kajian Teoretis
Pengkajian ini sebaiknya dilakukan bersama-sama klien penelitian sehingga
mereka mendapatkan pengetahuan baru, serta bagaimana cara mempergunakan
pengetahuan tersebut, untuk memecahkan permasalahan secara ilmiah.
Sebab pengkajian teoretis telah
dilakukan sebelum penelitian maka langkah selanjutnya dalam tipe keua adalah
memebrikan pengetahuan tentang konsep yang akan diterapkan kepada klien
yang bersangkutan. Hal ini dapat
dilakukan lewat kegiatan penataran atau kegiatan pendidikan lainnya. Satu hal
yang patut mendapatkan perhatian dalam hal ini, adalah memberikan pengertian
yang cukup kepada pemimpin lembaga dimana konsep ini akan diterapkan.
Langkah-langkah dalam Action
Research
Langkah pertama adalah merumuskan masalah yang akan dipecahkan lewat
kegiatan action research. Perumusan masalah mesti dilakukan secara terinci dan
jelas yang mencangkup variable yang akan diintervensi serta pengukuran
keberhasilan intervenci tersebut.
Langkah kedua adalah melakukan
pengkajian teoretis mengenai teknologis yang akan diterapakan. Pengkajian
teoretis yang pada dasarnya merupakan upaya untuk mengetahui hakikat mengenai
teknologi yang akan diterapkan. Dalam action research pengkajin teoretis
mempunya dua kegunaan. Pertama, sebagai dasar bai penyusunan materi penataran
bagi personil yang akan terlibat dalam action research dan kedua, sebagai dasar
bagi penyusunan kerangka berfikir dalam pengajuan hipoteis.
Action Research dan Pengembangan
Konsep
Dalam hal ini maka action research dapat berperan untuk melakukan
verifikasi dan sekaligus melakukan modifikasi terhadap konsep-konsep termaksud
meskipun dalam skala-skala yang kecil. Pemikiran-pemikiran baru mungkin timbul
dari penelitian yang berskala kecil ini dan generalisasi yang lebih luas dapat
kita lakukan kemudian.Mengingat potensi action research ini maka disarankan
agar penelitian seperti ini bisa sering dilakukan.
Jembatan Pengabdian Masyarakat
Action research, dalam konteks tersebut diatas, dapat merupakan jembatan
antara penelitian dengan pengabdian pada masyarakat, yang merupakan
pengejawantahan dari tridharma perguruan tinggi. Hasil penelitian yang
mempunyai kegunaan aplikatif dapat diterapkan dalam memecahkan permasalahan
dengan menggunakan action research.
Pengetahuan teroretis yang bersifat
universal yang dilengkapi dengan seperangkat postulat dan asumsi tertentu
mengenai realitas yang dihadapi belum tentu cocok dengan situasi sosial budaya
kita. Demikian juga kondisi realitas yang dihadapi mungkin beredar dengan
asumsi yang dipergunakan dalam teori yang konvensional. Penerapan konsepsi
keilmuan yang univesa dalam kondisi sosial budaya kita secara membumi
(grounded) memungkinkan kita untuk menyempurnakan teori tersebut agar lebih
fungsional dalam kehidupan. Action research akan sangat berguna untuk
menyempurnakan penerapan konsep yang disesuaikan dengan tingkat kemajuan
manajemen dan sumber daya manusia.
31
Systems Thinking:
Kerangka Ilmu untuk Pendekatan Multidisipliner
Salah satu
kelemahan dalam cara berpikir ilmiah terletak pada cara pandang (objek forma) yang melihat objek pemikiran kita (objek
materia) merupakan fakta yang terisolasi dan fakta-fakta lain di sekitarnya.
Kegiatan penelitian mengharuskan kita untuk membatasi masalah agar proses
pemecahannya dapat dilakukansecara lebih terkontrol dan seksama. Cara pandang
keilmuan ini cenderung
membentuk cara berpikir yang terbatas dan bersifat konvergen dalam pengambilan
kesimpulan. Ilmu merupakan pengetahuan yang makin lama makin terspesilisasikan
dengan pengembangan disiplin keilmuan yang makin sempit dalam wilayah
penelaahannyat. Situasi ¡ni membentuk sindrom yang disebut sebagai deformasi
profesinales. Yakni deformasi bentuk disebabkan cara pandang profesi yang
sempit. Deformasi bentuk ini bila dikaitkan dengan objek permasalahan
menimbulkan deformasi dalam pengambilan keputusan dan salah satunya adalah
keputusan yang bersifat sektoral. Keputusan yang bersifat sektoral ini
disebabkan oleh cara berpikir secara sektoral pula. Kebenaran dalam pengambilan
keputusan menjadi bersifat solipsistik
yakni benar bila dilihat dan cara pandang tertentu.
Dewasa ini kita sering rnehhat analisis kebijakan
(policyai&5ig sifatnya sangat ilmiah namun sangat sempitpandanganya Kita
umpamanya mendengar wacana bahwauntuk menghemat anggaran maka sistem pensiun
pegawai negeriakan diubah menjadi sistem pembayaran sekaligus. Banyak lagi
wacana analisis kebijakan yang diambil para pengambil keputusan, meminjam pernyataan
Presiden John F. Kennedy, adalah “smart
but not wise” (cerdas namun tidak bijak). Perkataan ini disampaikan sang presiden
menanggapì saran Menhan Robert McNamara untuk menutup pelabuhan Boston karena
alasan ekonomi.
Bagi perencana kota (city
planner) reklamasi pantai yang menimbulkan
banjir pada masyarakat miskin di sekitarnya merupakan persoalan teknis yang tidak dapat díhindari. Ini adalah akibat
dan cara berpikir ilmiah yang bersifat atomistis yang memandang fakta yang satu
terisolasi dan fakta-fakta yang lain. Berpikir sistem (systems thinking) memberikan “kerangka pikir” yang dapat diisi
oleh berbagai disiplin keilmuan dalam pendekatan multi displiner.
Perbedaan Filosofis antara
Berpikir Ilmiah dengan Berpikir Sistem
Bila keduä
cara berpikir itu dibandingkan maka segera terlihat perbedaan filosofis antara
berpikir ilmiah dan berpikir sstem. unsur realitas dalam berpikir ilmiah adalah
fakta sedangkan unsur realitas dalam
berpikir sistem adalah sistem. Sistem
diartikan sebagai kumpulan fakta yang terikat satu dengan yang lain secara
fungsional. Berpikir ilmiah bersifat atomistik
sedangkan berpikir sistem berpikir holistic
atau sistematik. Baik berpikir ilmiah maupun berpikir sistem, kedua-duanya
mempergunakan metode logico-hypothetic-verifikatif dalam menemukan konsep
keilmuan yang dapat mendeskripsikan, menjelaskan, memprediksikan dan mengontrol
gejala alam.
Salah satu
cara pikir dalam memandang sistem adalah logika sistem terbuka (the logic of open system). Kegiatan
berpikir sistem didasarkan pada asumsi bahwa
realitas adalah suatu sistem terbuka di mana terdapat input yang diimpor dan sistem
lain dan output yang diekspor ke
sistem lain pula. Perubahan input menjadi ouput ini merupakan proses yang bersifat produktif yang memerlukan sumber daya ekonomi yakni man, money, material and method. Benda
ekonomi 4-M ini disebut instrumental
input. Dalam sistem pendidikan, umpamanya, factor man adalah guru, faktor
money adalah biaya pendidikan, factor material
adalah prasarana dan sarana pendidikan sedangkan faktor method adalah kurikulum.
Pengembangan berpikir system
Berfikir konsep
sistem, atau berfikir sistem (sistematik) secara historis mempunyai sejarah
yang tua sekali, yang menurut Van Court Hare, sudah dimulai dengan
pembangunan piramida Cheops dalam zaman Mesir Kuno yang mempergunakan system
pengukuran dalam konstruksinya, penelaahan para ahli astronomi Phunicia dalam
menyusun sistem bintang-bintang di langit, dan Plato bahkan telah berfilsafat
tentang sistem kemasyarakatan dengan ahli filsafat yang memegang tampuk pucuk
pimpinan. Demikian juga Hegel, lbnu Khaldun dan Goethe telah mempergunakan
konsep sistem dalam bidangnya masing-masing.
Dewasa ini berpikir sistem tidak saja dianggap sebagai suatu “teknik berpikir” melainkan suatu
paradigma berpikir kontemporer, yang mempunyai landasan kefilsafatan yang
bersifat mandiri. Paradigma merupakan konsep dasar yang dianut dan diamaikan oleh
suatu komunitas tertentu
dalam periode tertentu pula. Paradigma yang dianut oleh pemikir-pernikir sistem
adalah konsep tentang sistem. Berdasarkan konsep ini maka dikembangkan cara
berpikir sistem. Konsep ini merupakan cara yang berbeda dengan cara non-sistem
umpamanya dengan cara berpikir secara
atomistik yang dilakukan dalam berpikir ilmiah.
Perang dunia II
mengembangkan penerapan konsep sistem yang disebut Operasi Riset( Operations Research). Operasi riset pada
hakekatnya merupakan penerapan metode ilmiah dalam pengelolaan sumber-sumber
ekonomis seefesien mungkin dalam mencapai suatu tujuan tertentu. Herbert
A. Simon, umpamanya, menyatakan bahwa Charles Babage dan Frederick Taylor
seharusnya menjadi anggota anumerta dan masyarakat Operasi Riset. Walaupundemikian Operasi Riset mempunyai ciri
yang khas yakni mempergunakan konsep sistem dalam tpemecahan masalahnya. Operasi Riset
dipandang sebagai sebuah teknik yang memungkinkan pihak Sekutu memenangkan
beberapa per-tempuran besardalam Perang Dunia Il seperti the Battle of Britain, the Battle of North Atlantic dan
pertempuran-pertempuran lainnya di Pasifik. Kemenangan-kemenangan ini
menyebabkan tertariknya masyarakat ilmiah kepada konsep sistem dan sesudah
Perang Dunia liselesai maka berkembanglah penerapan konsep sistem
kepadaberbagai bidang.
Operasi Riset secara historis merupakan penemuan yang
telahmemulai kegiatannya sekitar tahun 1939. Tujuan operasi Riset adalah mencari pemecahan optimali suatu hal
yang tidak mungkin dilakukan dalam
bidang-bidang tersebut di atas. Oleh sebab itu maka dikembangkan Sistem Analisis yang harus cukup puas dengan
alternatif pemecahan yang terbaik meskipun tidak optimal. Operasi riset menganggap bahwa variabel-variabel
adalah berlanjut (continous) sedangkan
Sistem Analisis adalah terputus (discreet). Operasi Riset menganggap bahwa
kombinasi danvariabel-variabel adalah tak terbatas dan tujuannya adalahmencari
kombinasi yang optimal. Di pihak lain, Sistem Analisis menganggap bahwa kombinasi-kombinasi tersebut adalah terbatas, dan
tujuan Sistem Analisis adalah mencari kombinasi yangterbaik dan
alternatif-alterrnatif yang terbatas tersebut.
Karena fungsinya yang berbeda maka Operasi Riset dan Sistem Analisis mepergunakan teknik-teknik yang
berbeda pula. OperasiRiset umpamanya, mempergunakan teknik programming,
queueing, gaming, Monte Carlo dan sebagainy. Sedangkan SistemAnalisis
mempergunakan cost-benefit dan cost-effectiveness technique. PBBS, atau
Plannig-Prograrnming BudgetingSystem, sebenarnya sudah dikenal sejak tahun 1942
ketikaAmerika Serikat melancarkan Controlled Materials Plan dalam Perang Dunia
kedua. Walaupun begitu konsep PPBS baru
dapat disempurnakan setelah
pengembangar Sistem Analisis.
Catatan Akhir
Demikianlah
secara singkat telah kita paparkan landasan filosofis berpikir sistem dan sedikit
sejarah perkembangannya. Tubuh
pengetahuan berfikir sistem ini dicoba dipetakan dalam sebuah bagan 31-3: A Typology of Systems Thinking yang
disertakan. Semouga pembahasan singkat ini membuka wawasan baru bahwa terdapat
cara berfikir lain di samping cara berfikir ilmiah yang dapat kita manfaatkan
secara bersama-sama dalam pemecahan berbagai masalah dalam kehidupan. Berfikir
sistem dapat dianggap sebagai skeleton of science (kerangka ilmu) yang
memfasilitasi pendekatan multidisipliner
dalam pemecahan masalah secara menyeluruh dengan menghilangkan kepicikan ego
sektoral.
Komentar
Posting Komentar